Langsung ke konten
Minggu, 31 Mei 2026 Portal Berita Terkini & Terpercaya
Berhasil!
Berita

Krisis Pangan Global 2025: Ratusan Jutaan Perut Umat manusia Terancam Kelaparan, Indonesia Harus Siaga

SuaraBogani.com— Dunia tengah bergulat dengan ancaman serius yang menyasar hak paling dasar umat manusia: pangan. Laporan terbaru Global Report on Food Crises (GRFC) 2025 mencatat bahwa lebih dari 295 juta orang di seluruh dunia hidup dalam kondisi kelaparan akut—nyaris dua kali lipat dibandingkan tahun 2020.

Krisis ini tak lagi terbatas pada wilayah rawan konflik. Ia menjalar ke negara-negara yang sebelumnya stabil, menembus batas geografis dan menyulut kepanikan global. Kombinasi antara perang bersenjata, perubahan iklim, inflasi, dan kebijakan proteksionis pangan telah menciptakan badai sempurna bagi kelangsungan hidup umat manusia.

Sejumlah kawasan dunia mengalami kondisi paling parah. Di Sudan, sekitar 25 juta orang mengalami kekurangan pangan, dan hampir 2 juta berada dalam kondisi kelaparan ekstrem (famine-like conditions).



Di Yaman, lebih dari 17 juta orang—termasuk 1 juta anak-anak—menghadapi krisis pangan akut. Sementara itu di Gaza, konflik Israel–Palestina yang terus memanas menyebabkan kerusakan infrastruktur dan terhambatnya distribusi bantuan. Haiti dan Mali pun terguncang oleh ketidakstabilan politik dan kekerasan bersenjata.

Wilayah Afrika Timur seperti Somalia, Ethiopia, dan Kenya menghadapi kekeringan berkepanjangan yang memicu gagal panen dan kelangkaan air. Perubahan iklim memperparah situasi, ditandai dengan gelombang panas ekstrem dan banjir tak menentu.

Menurut sejumlah pakar dari PBB dan organisasi pangan dunia, krisis kali ini bukan karena produksi yang kurang. Dunia sebenarnya masih memproduksi cukup makanan untuk seluruh umat manusia. Namun, distribusinya timpang.

Perang dan kebijakan ekonomi nasionalis menjadi faktor dominan. Konflik antara Rusia–Ukraina mengganggu ekspor gandum dan pupuk global. Di saat yang sama, ketegangan Israel–Iran dan blokade di wilayah Timur Tengah memperburuk stabilitas pasokan pangan dan energi.

Negara-negara produsen seperti India dan Rusia mulai menahan ekspor beras, gandum, dan jagung demi menjaga kebutuhan domestik. Kebijakan ini berdampak langsung pada negara-negara importir di Afrika dan Asia Selatan.

Inflasi global yang didorong konflik geopolitik membuat harga pangan melonjak di banyak negara. Harga gandum dan jagung bahkan naik hingga 200 persen dalam dua tahun terakhir.

Kelemahan nilai tukar mata uang lokal di negara berkembang makin menyulitkan masyarakat membeli bahan pokok. Data dari World Food Programme (WFP) mencatat bahwa lebih dari 59 juta orang terdorong ke jurang kelaparan hanya dalam 18 bulan terakhir, mayoritas akibat tekanan ekonomi dan konflik regional.

Sejumlah Pihak Menilai Indonesia masih berada dalam zona aman, namun tetap tidak kebal dari dampak Inflasi global,kemungkinan akan terjadinya kenaikan sejumlah harga bahan pokokpun tak bisa lagi di pungkiri . Pemerintah telah menyiapkan cadangan beras nasional sebanyak 2 juta ton dan mendorong diversifikasi pangan melalui pengembangan sagu, porang, dan singkong..Meski begitu, ancaman El Niño, kenaikan harga pupuk, serta ketergantungan pada impor kedelai dan gandum menjadi tantangan nyata.

Presiden Prabowo Subianto dalam pernyataan terbarunya menggarisbawahi bahwa Indonesia mampu “survive” dan bahkan dapat menjadi lumbung pangan Asia Tenggara, asalkan kebijakan strategis dijalankan dengan konsisten dan berbasis pada kekuatan lokal.

Krisis ini hanya bisa diatasi dengan kerja sama internasional, Lewat Organisasi dunia Untuk menyerukan:


  • Percepatan bantuan pangan ke wilayah krisis dan konflik

  • Penghapusan hambatan logistik dan ekspor

  • Investasi di pertanian lokal

  • Edukasi pengurangan food waste

  • Perdamayan di Negara_Negara konflik


Sementara Di level komunitas, masyarakat bisa berperan aktif dengan:

  • Mengembangkan pertanian berbasis rumah tangga

  • Mengurangi ketergantungan pada produk pangan impor

  • Mendukung pasar lokal dan sistem distribusi efisien


Krisis pangan dunia bukan lagi ancaman masa depan—ia sedang terjadi sekarang. Ketika Gaza hancur, ketika ladang gandum Ukraina terbakar, dan ketika Sudan kelaparan,Iran Memblokade jalur Minyak, dunia tak boleh lagi menutup mata Pada Pecepatan Perdamayan Global.

"Kita bukan kekurangan makanan, kita kekurangan moral " — José Graziano da Silva, mantan Direktur FAO.

Indonesia, sebagai negara agraris dengan potensi besar, harus mengambil peran strategis. Bukan hanya menyelamatkan diri ancaman Krisis ini , tetapi menjadi bagian dari solusi global. Namun semua itu hanya akan terwujud jika kita peduli dan bertindak sekarang.....

O

Kontributor SuaraBogani.com — menyajikan berita terkini, akurat, dan berimbang untuk masyarakat Indonesia.